Minggu, 13 Juli 2014

Menjelajahi Eksotisme Sungai Kapuas di Jantung Borneo



Sintang, sebuah kota kecil jauh di Jantung Pulau Kalimantan. Tepatnya di Provinsi Kalimantan Barat dan bisa ditempuh selama 10 jam melalui perjalanan darat via Pontianak



 Terdapat pertemuan antara sungai kapuas; sungai terpanjang di Indonesia dengan Sungai Melawi. Menjelajahi eksotisme sungai ini seakan tiada habisnya. Walau musim kemarau membuat permukaan sungai surut, tapi tak mengurangi keindahan panoramanya.
Saat paling tepat untuk dapat menikmatinya adalah senja hari di Gazebo depan kantor Bupati Sintang.








 Kalian bisa duduk bersantai dan bercengkrama sembari menunggu terbenamnya matahari atau menikmati hidangan lezat dari restoran-restoran terapung yang berjejer di pinggiran sungai.






Kalau bercengkrama di Gazebo masih kurang greget, kalian bisa mencoba turun dan nyemplung ke pinggiran sungai, untuk sekedar melihat alam sekitar dan bermain air. Tapi hati-hati karena sungainya sangat dalam. Hal ini hanya bisa dilakukan saat air sungai sedang surut. Karena di musim penghujan, permukaan air bisa naik 3 meter dari permukaan sekarang.





Beranjak dari Kantor Bupati. Kita bisa menikmati pertmuan sungai melawi dan kapuas dari Keraton Kerajaan Sintang dan Masjid tertua di Sintang. Sekalian Berwisata sejarah dan Religi. Lokasinya sekitar 10 menit dari lokasi awal dengan terlebih dahulu menyeberangi sungai melawi.







Keraton dan Masjid ini berlokasi Tepat di depan Pertemuan dua sungai tersebut. Sehingga tempat ini menjadi tempat andalan untuk menikmati keindahannya. Dari depan Masjid mata akan langsung terpampang 3 pemandangan sekaligus. Luasnya air sungai, rumah-rumah dan ruko di seberang dan hijau nya hamparan hutan di pinggiran kota.
dokumentasi pribadi


dokumentasi pribadi

dokumentasi pribadi

dokumentasi pribadi

dokumentasi pribadi

Tempat ini merupakan tempat yang wajib di kunjungi jika berkunjung di Kota Sintang. Spot terbaik untuk mengamati keindahan pertemuan sungai Kapuas dan sungai Melawi. Sembari duduk santai menikmati aneka kuliner khas Kota Sintang.

Minggu, 14 Juli 2013

Banjir Kanal Barat Semarang, Riwayatmu Kini.

Setelah sekian lama merantau di pulau seberang. Ketika perjalanan pulang melintasi Kota Semarang, ada pemandangan yang berbeda dan membuatku cukup kaget. Yaitu Banjir Kanal Barat. Masih sangat jelas di benak ku bagaimana keadaanya sebelum aku berangkat ke pulau seberang tadi

http://myzone.okezone.com/content/read/2011/03/12/4680/

Tetapi kondisi sekarang sudah sangat jauh berubah. Aku pun sampai terkaget keheranan melihatnya. Walau airnya tidak biru, tapi sungainya bersih tanpa sampah. Dengan jogging track, taman, pagar pembatas, serta lampu hias di sepanjang sungai. tak hanya di satu sudut saja, bahkan pemandangan serupa bisa kalian jumpai dari hulu sampai hilir kanal tersebut.










http://www.tribunnews.com/images/view/563532/banjir-kanal-barat-kota-semarang


http://youcansee-whatisee.blogspot.com/2012/06/banjir-kanal-barat-part2-semarang.html


Tempat ini pun sekarang menjadi tempat favorit warga semarang untung berkumpul dan menghabiskan waktu di sore dan malam hari.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/11/05/134681/Normalisasi-Banjirkanal-Barat-Diperkirakan-Molor


Salut dengan Pemkot Semarang atas program pembenahan wajah kotanya, terutama Banjir Kanal Barat. Walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini, tetapi telah memberikan wajah baru nan segar bagi Kota Semarang. Dan nantinya para wisatawan yang akan menuju pusat Kota Semarang dari Bandara Ahmad Yani Semarang akan disuguhi eksotisme Sungai Banjir Kanal Barat Semarang ini. 

Numpang Narsis dulu ya di Banjir Kanal Barat ini,,,,,,,,




5 Menit Duduk, 3 Kali Didatangi Pengemis


Jumat pekan ini, selesai menjalankan sholat jumat, aku dan temanku terpaksa menghampiri salah satu warteg di jalan Ngesrep Timur, Kawasan Kampus UNDIP Semarang dikarenakan gejolak perut yang sudah tak tertahankan. Kami pun segera memesan makanan dan duduk. Kebetulan pengunjung di warteg tersebut hanya kami berdua.

Beberapa saat setelah kami duduk, datang lah seorang lelaki tua dengan perawakan kurus dan pakaian lusuh datang dan menghampiri kami untuk meminta-minta. Dengan rasa kasihan dan keinginan untuk membantu bapak tadi, aku pun memberikan uang pecahan Rp500 dari kantong ku kepadanya.

Tak lama setelah bapak tadi pergi, datanglah seorang wanita gemuk paruh baya yang mengenakan daster dan berselempang selendang di pundaknya. Ia juga menghampiri kami dan meminta-minta. Kali ini temanku yang memberinya sejumlah uang receh. Karena stok receh di kantongku sudah habis, sayang kan kalo dikasih uang kertas. Maklum tiap hari pun juga harus menghemat hehe. Setelah menerima uang dari temanku, ibu tadi pun pergi dengan wajah sumringah.

Setelah ibu tadi pergi, selang berapa lama datang lagi seorang nenek tua dengan jalan agak pincang datang menghampiri kami. Aku dan temanku pun sudah mulai merasa tidak nyaman. Kapan kami bisa menikmati hidangan kami kalau mereka terus dan terus datang. Dengan perasaan agak sebel kami pun membiarkan nenek tadi dengan harapan agar beliau segera pergi dengan sendirinya. Agak lama kami menunggu, tapi nenek tadi masih setia berdiri di sana dengan tangan menadah. Kami pun menggelengkan kepala sambil mengangkat tangan sebagai isyarat bahwa kami tak mau memberinya uang. Akhirnya nenek tadi beranjak. Akan tetapi ada hal yang membuatku kaget, saat nenek tadi beranjak dia sembari menggerutu dengan bahasa jawa dan memperlihatkan wajah tak bersahabat.

Untuk kawasan Kampus UNDIP memang baru-baru ini mulai banyak diserbu pengemis. Sebelumnya mereka beserta di temani pengamen tersebar di kawasan Jalan Pahlawan dan Simpang Lima. Saking banyaknya, sampai akhirnya pemkot melarang pengemis dan pengamen di kawasan tersebut dengan melakukan razia setiap malam oleh satpol PP. Entah mungkin karena banyak masyarakat yang terganggu dengan mereka saat menikmati malam di Landmark Kota Semarang tersebut.

Aku pun berharap semoga Pemkot juga segera menindak mereka yang mulai menyerbu kawasan Kampus UNDIP. Karena dirasa keberadaan mereka sudah membuat tak nyaman. Bukan maksudku untuk anti-sosial dengan menyingkirkan mereka sebagai kaum lemah. Akan tetapi jika keberadaan yang mulai mengganggu aktivitas masyarakat, apalagi menggerutu saat seseorang tak memberinya uang atau bahkan memaksa untuk memberi uang, menurut ku itu sudah tak ada bedanya dengan memalak dan harus ditindak.

Di lain pihak aku pun juga berharap semoga pemerintah semakin peduli dengan kaum-kaum miskin serta memberi mereka bantuan agar mereka tak harus meminta-minta di kota.

Kunjungi juga : http://sosbud.kompasiana.com/2013/06/23/5-menit-duduk-3-kali-didatangi-pengemis-571298.html

Anak yang Harus Menanggung Dosa Orang Tuanya

Akhir November 2012 lalu, seorang bayi laki-laki bernama Adit tergolek lemah di rawat di ICU RSUP dr. Kariadi Semarang. Bayi itu adalah anak angkat dari ibu Siti (samaran) dan Pak Ilham (Samaran). Sudah sebulan lebih bayi itu menjalani perawatan dengan kondisi yang semakin memburuk. Dan akhir akhir tahun 2012, bayi yang tak bersalah itu harus menyerah melawat kondisinya.

Kejadian ini berawal ketika Ibu Siti dan Pak Ilham yang telah beberapa tahun menikah, namun pasangan suami istri tersebut tak kunjung dikaruniai buah hati. Dengan hasrat besar untuk memiliki buah hati, akhirnya pasangan tersebut mengangkat anak dengan harapan sebagai pancingan agar sang istri dapat hamil (anak pancingan).

 Harapan pasangan ini pun menjadi kenyataan. Sang istri pun akhirnya hamil. Namun masalah ini mulai muncul. Bayi yang mereka adopsi mulai sering sakit-sakitan. Dan pada kalanya sampai si bayi tersebut tak sadar dan sampai dilarikan ke RSUP Kariadi Semarang. Dokter yang memeriksa mengatakan kalau si Bayi mengalami kelainan hati, dan harus segera mendapatkan cangkok hati.

Karena Bu Siti dan Pak Ilham bukanlah orang tua biologis dari bayi tersebut, maka keduanya tak bisa mencangkokan hati mereka untuk bayi kesayangan mereka. Dan terpaksalah mereka harus mencari si orang tua biologis dari bayi tersebut. Pencarian pun berlangsung lama sehingga si bayi harus tergolek tak berdaya di ICU menunggu orang tua biologisnya untuk mencangkokkan hatinya demi kelangsungan hidup bayi tersebut.

Ibu kandung dari bayi tersebut pun akhirnya ditemukan. Seorang wanita muda yang telah bersuami dan beranak satu. Ternyata bayi tersebut adalah anak di luar nikah dari ibu biologisnya. Dan parahnya, ibu nya pun tak tahu siapa ayah dari bayi tersebut. Berkali-kali ibu biologis bayi tersebut mencoba untuk menggugurkan kandungannya, sampai akhirnya dia mengurungkan niatnya dan membawa bayi hasil hubungan gelapnya ke panti asuhan. Akhirnya diketahui kelainan hati yang di alami bayi tersebut adalah buah dari usaha sang ibu untuk menggugurkannya.

Bu Siti dan Pak Ilham pun meminta agar wanita tersebut untuk menyumbangkan hatinya demi kelangsungan hidup Adit. Namun celakanya wanita tersebut beserta keluarganya menolak. Pihak suami dan orang tua dari wanita tersebut beralasan bahwa mereka telah menutup aib keluarganya. Dan jika wanita tadi mencangkokkan hatinya, pihak keluarga takut kalau orang-orang akan tahu kalau anak mereka punya anak diluar nikah sehingga akan merendahkan martabat keluarga mereka.

 Akhirnya dengan wajah lesu, pak Ilham dan Bu Siti harus kembali ke rumah sakit dengan tangan hampa. Dua bulan telah berlalu, dan kondisi Adit semakin lemah. Pak Ilham dan Bu Siti telah menghabiskan ratusan juta untuk merawat adit, anak angkat mereka. Sementara pasangan tersebut pun bukan dari keluarga tak mampu.

Atas persetujuan Pak Ilham dan Bu Siti, akhirnya mereka harus merelakan Adit untuk dipanggil ke pangkuan Tuhan.

Sungguh ironis! Bayi kecil yang tak berdosa harus menanggung derita yang amat berat karena dosa kedua orang tuanya. Dan demi gengsi dan martabat sang keluarga kandung. Bayi kecil yang tak berdosa harus terenggut kesempatannya untuk hidup.

Minggu, 04 Maret 2012

Pantai Pasir Panjang Singkawang

Sibuk dengan seabrek kegiatan kuliah yang menguras tenaga dan pikiran. Akhirnya pada untuk mengisi liburan Natal kemarin. Anak-anak STAN Pontianak tahun 2011 memilih untuk mengisinya dengan mengunjungi Pantai Pasir Panjang Singkawang.

Pantai ini berada di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Dengan Ombak nya yang tak terlalu besar, pasir putihnya serta keasrian lingkungan bikin betah berlama-lama di sini.

Ini beberapa foto dari sana,,

Narsis dikit ga pa pa ya ,,,












Perjalanan Semarang-Potianak; Pengalaman Pertama Naik Pesawat


Sudah Lama ga nulis di blog ku ini. karena kesibukanku berkuliah di salah satu sekolah kedinasan yang cukup terkenal di Indonesia sehingga sampai2 ga sempat ngepos2.

Nah setelah disempet2in akhirnya sempat juga buat membagi pengalamanku naik pesawat (ndeso banget haree gene baru naik pesawat),, 




Hari jumat, 18 November 2011 merupakan hari yang bersejarah dalam hidupku. Karna pada hari itulah untu ali pertamanya aku naik pesawat. Memang katro banget nih aku,, hareee genee baru naik pesawat? Kemana aja loe!!

Perjalanan aku mulai pada pukul 4 pagi dari Demak kota wali (bukan wali band lho ya). Karna sebelumnya kami mendapatan kabar dari piha masapai yang kami tumpangi, yaitu Sriwijaya air, bahwa pesawat yang kami tumpangi terbang lebih awal. Yaitu sekitarpukul 6. Dengan perasaan bagia sekaligus dag dig dug saya pun memulai perjalanan ke Bandara Ahmad Yani Semarang bersama keluarga. Ayah, Ibu. Kedua adik saya, nenek, dan bude saya.
Sekitar pukul 5.15 sampailah kami di bandara. Suasana penuh sesak. Sudah terjadi antrian di pintu masuk bandara. Sebelum masuk bandara pun sudah terjadi kemacetan panjang di Bundaran Kalibanteng, dikarenakan di sana sedang ada proye pembuatan Fly Over. Karena bundaran pertemuan antara enam jalan tersebut memang terkenal sebagai salah sati titik paling macet di Semarang.

Sampai di bandara sudah terjadi antrian panjang penumpang yang ingin masuk dan check in. sebelum check in, saya dan ayah saya berpamitan dengan segenap keluarga. Sungguh sedih rasanya haruus meninggalkan keluarga dan kampong halaman ke pulau seberang untuk menuntut ilmu dan entah kapan akan pulang.

Kami pun check in. Dan pada saat check in itu lah ayah saya sadar kalau KTP nya ketinggalan. Dasar nih ayah, pergi jauh-jauh sampai ke Kalimantan kok lupa ga bawa KTP.

Tak lama kami menunggu di ruang keberangkatan sudah terdengar pengumuman kalau penumpang pesawat tujuan Jakarta akan berangkat melalui gerbang 3. Saat itu lah kami berjalan menuju pesawat. Saat melihat deretan pesawat yang berjejer membuat ku makin berseangat. Tapi semangat itu segera hilang saat sudah naik dan pesawat siap untuk lepas landas. Perasaan was-was, grogi, takut deg-degan sekaligus senang bercampur menjadi satu. Pikiran buruk kalau-kalau pesawat gagal lepas landas atau pun jatuh berseliweran di kepala. Namun saya akhirnya menyeahkan pada yang di atas. Kalau saya belum ditakdirkan untuk meninggal, walau pesawatnya jatuh, pasti juga akan tetap selamat, bagaimana pun itu.

Sepanjang perjalanan saya terus mengamati jendela kabin pesawat. Melihat Pemandangan kota Semarang yang Semakin Kecil dan Kecil sampai tertutup awan dan terlihat lagi. Setelah kira-satu jam Kami terbang. Sampailah kami di Bandara Internasional Soekarno Hatta.

 Sampai di sana ada sedikit hal yang membuat ku agak kecewa. Yaitu Pesawat harus ditunda keberangkatannya sekitar satu jam. Wah wah,, akhirnya terpaksa saya dan ayah harus bengong dan ngalamun aja di Bandara Soetta.

Setelah Menunggu akhirnya kami siap2 menaiki pesawat kami "Sriwijaya Air" untuk terbang menuju Bumi Kalimantan.

Sepanjang perjalanan aku kembali terus mengamati jendela, melihat megahnya gedung2 pencakar langit di kota Jakarta.

Sekitar 50menit, Pramugari memberitahukan kalau sebentar lagi kita akan sampai di Pontianak (Bandara Supadio),, . Aku langsung teranjak dari tempat duduk dan melihat ke jendela. Terkagum-kagum dengan hijaunya bumi Kalimantan,, Lebatnya Hutan serta sungai-sungai yang sangat luas.




Lalu saat akan mendarat pramugari menginstruksikan untuk mengencangkan sabuk pengaman. Dengan harap-harap cemas saya berdoa semoga pendaratannya lancar. Namun di luar dugaan, saat pendaratan terjadi benturan yang cukup keras dan membuat banyak penumpang berteriak. Saya pun ikut teriak heheheheh,, Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan. Dan akhirnya pesawat berhenti dan kami pun turun yang disambut dengan cuaca mendung dan gerimis di Kota Khatulistiwa PONTIANAK....

Selasa, 15 November 2011

11 Orang Indonesia yang Sukses tanpa Ijazah

Siapa bilang sukses perlu pendidikan yg tinggi, ini contoh 11 orang Indonesia yg sukses tanpa ijazah:
  1. Andy F. Noya
    Andy F. Noya
    PimRed Metro TV ini belum lulus sarjana… Satu hal yang menarik, Andy sebenarnya adalah orang teknik. Sejak lulus SD Sang Timur di Malang, Jawa Timur, pria kelahiran Surabaya ini sekolah di Sekolah Teknik Jayapura lalu melanjutkan ke STM Jayapura. “Tetapi sejak kecil saya merasa jatuh cinta pada dunia tulis menulis. Kemampuan menggambar kartun dan karikatur semakin membuat saya memilih dunia tulis menulis sebagai jalan hidup saya,”?tutur Andy.
  2. Adam Malik
    Adam Malik
    Ternyata orang yg dikabarkan Agen CIA ini ternyata gak pernah ngenyam bangku sekolah.
  3. M. H. Ainun Najib
    Emha Ainun Nadjib hanya tiga bulan kuliah, Pendidikan formalnya hanya berakhir di Semester 1 Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah ‘diusir’ dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun ketiga studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I. Selebihnya Beliau jadi pengembara ilmu di luar sekolah hingga dia bisa jadi manusia dengan bermacam sebutan (multifungsi).
  4. Abdullah Gymnastiar
    Abdullah Gymnastiar
    Ternyata sukses menjadi kiai dan wirausahawan (pengusaha besar) tanpa ijazah. Walaupun sudah lulus, tapi dikabarkan sampai saat ini belum mengambil ijazahnya.
  5. Ajip Rosidi
    Ajip Rosidi
    Dia menolak ikut ujian akhir SMA karena waktu itu beredar kabar bocornya soal-soal ujian. Dia berkesimpulan bahwa banyak orang menggantungkan hidupnya kepada ijazah. “Saya tidak jadi ikut ujian, karena ingin membuktikan bisa hidup tanpa ijazah”?. Dan itu dibuktikan dengan terus menulis, membaca dan menabung buku sampai ribuan jumlahnya. Walhasil sampai pensiun sebagai guru besar tamu di Jepang, Dia yang tidak punya ijazah SMA, pada usia 29 th diangkat sebagai dosen luar biasa Fakultas Sastra Univ. Padjadjaran. Lalu jadi Direktur Penerbit Dunia Pustaka Jaya, Ketua Ikapi Pusat, Ketua DKJ dan akhirnya pada usia 43 tahun menjadi profesor tamu di Jepang sampai pensiun. Berikut Sejarah Pendidikan Beliau :
    • Sekolah Rakyat 6 tah di Jatiwangi (1950)
    • Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953)
    • Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat)
  6. Bob Sadino
    Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 th mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia dan tidak melanjutkan kuliah. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 t. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed. Pada th 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri.
  7. Andrie Wongso
    Andrie Wongso
    Anak ke 2 dari 3 bersaudara ini terlahir dari sebuah keluarga miskin di kota Malang. Di usia 11 th (kelas 6 SD), terpaksa harus berhenti bersekolah karena sekolah mandarin tempat andrie kecil bersekolah ditutup. Maka SDTT, Sekolah Dasar Tidak Tamat, adalah gelar yang disandangnya saat ini. Masa kecil hingga remajanya pun kemudian dilalui dengan membantu orang tuanya membuat dan berkeliling berjualan kue ke toko-toko dan pasar.
  8. Purdi E Chandra
    Purdi E Chandra
    Sosok Purdi E. Chandrakini dikenal sebagai pengusaha yang sukses. Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel) Primagama yang didirikannya bahkan masuk MURI lantaran memiliki 181 cabang di 96 kota besar di Indonesia dengan 100 rb siswa tiap th. Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya.
    Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa2 dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita2 dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis.
    Kini kabarnya sekarang sudah ada lebih dari 500 cabang Primagama di seluruh Indonesia.
  9. Hendy Setiono
    Hendy Setiono
    Hendy Setiono (kebab Baba Rafi) mengawali usaha tahun 2003 di Surabaya. Modalnya hanya Rp 10 jt atau sebuah gerobak burger. Kini bisnisnya berkembang pesat dengan menu makanan utama kebab serta santapan ala koboi (burger serta hotdog). Jumlah cabangnya setiap tahun terus bertambah. Terakhir, terdapat 140 outlet tersebar di 25 kota, antara lain Batam, Bali, Bandung, Banjarmasin, Malang, Gresik, Jember, Kediri, Lampung, Padang, Malang, Makasar, Medan, Pasuruan, Pekan Baru, Karawang, Surabaya, Sukabumi, Semarang, Sidoarjo, Tasikmalaya, Jogjakarta, dan Jakarta.
  10. Buya Hamka
    Buya Hamka
    HAMKA (1908-1981), adalah akronim kepada nama sebenar Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Ia adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia HAMKA mencapai 10 th, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
  11. Basrizal Koto
    Basrizal Koto atau sering disebut Basko lahir di Kampung Ladang, Pariaman dari pasangan Ali Absyar dan Djaninar. Masa kecilnya sangatlah getir, dimana Basko sempat merasakan hanya makan sehari sekali, di mana untuk makan sehari-hari saja sang ibu harus meminjam beras ke tetangga. Ayahnya hanyalah bekerja sebagai buruh tani yang mengolah gabah. Meski sempat bersekolah hingga kelas lima SD, Basko akhirnya berkesimpulan bahwa kemiskinan harus dilawan bukan untuk dinikmati. Atas seizin ibunya, diapun memilih pergi merantau ke Riau dibanding melanjutkan sekolah.Basko yang panjang akal dan visioner mengawali usahanya dengan berjualan pete.Kemahirannya berkomunikasi, membangun jaringan, menepati janji, dan menjaga kepercayaan akhirnya membawanya sukses menaklukan kemiskinan, membangun kerajaan bisnis, dan menciptakan lapangan kerja.
    Jumlah perusahaan yang dikelolanya kini mencapai 15 perusahaan dan sejak 2006 dia juga terjun ke bisnis penambangan batu bara di Riau, menyediakan jasa TV kabel dan Internet di Sumatra.Beberapa perusahaan yang masuk dalam MCB Group miliknya adalah PT Basko Minang Plaza (pusat belanja), PT Cerya Riau Mandiri Printing (percetakan), PT Cerya Zico Utama (properti), PT Bastara Jaya Muda (tambang batubara), PT Best Western Hotel (Hotel Basko), dll. Proyek terakhir yang tengah digarapnya adalah pendirian Best Western Hotel dengan 198 kamar. Sebuah hotel bintang empat plus yang tengah di bangun di Padang, Sumatra Barat.
source : milis Senyum-ITB
http://artikelunik.com/11-tokoh-indonesia-yang-sukses-tanpa-ijazah/